Showing posts with label produk pertanian. Show all posts
Showing posts with label produk pertanian. Show all posts
Kisah Sukses Sadarsah dengan Bisnis Kopi Gayo
Kisah Sukses Sadarsah dengan Bisnis Kopi Gayo - Sadarsah, pria kelahiran Medan 19 November 1974 ini melalui CV Arvis Sanada, perusahaan yang ia dirikan pada tahun 2006, mengekspor kopi gayo ke Amerika Serikat, Inggris, Kuwait, Taiwan, Korea, Australia, Jepang, dan Laos. Setiap bulan ia mengirim 15 kontainer ke negara-negara tersebut.
Dua varietas kopi arabika gayo, yakni Gayo 1 dan Gayo 2 adalah varietas unggul berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 3998/Kpts/SR.120/12/2010, Tanggal 29 Desember 2010. Gayo 1 merupakan varietas Arabusta Timtim, dan gayo 2 adalah verietas Borbor. Kelebihan kedua varietas ini adalah tahan terhadap karat daun, nematode dan penggerek buah kopi. Selain itu kedua varietas ini memiliki citarasa dan aroma excellent, sehingga menjadikan jenis kopi ini menjadi favorit di pasar dunia.
Sadarsah mulai mengenal bisnis kopi ketika lulus kuliah pada tahun 2001. Saat itu dia masih menjadi tenaga pemasar di lima perusahaan eksportir kopi di Medan, Sumatra Utara. Setelah hampir lima tahun bekerja, alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) ini mulai memilih jalan untuk berwirausaha sendiri.
Pada 2006, dengan modal pinjaman dari seorang teman, Sadarsah mendirikan CV Arvis Sanada di Medan. Dia perlu membuat badan usaha karena melihat peluang besar dalam bisnis ekspor kopi. Apalagi ketika itu dunia sedang mengalami krisis kopi.
Ekspor perdana yang cuma satu kontainer itu ternyata menjadi pembuka pintu gerbang bagi Sadarsah untuk memasuki perdagangan kopi dunia. Dengan mengusung slogan “Quality, Trust, and Excellence,” pertumbuhan bisnis Sadarsah melesat pesat. Jika pada 2006, omzetnya hanya Rp 600 juta per bulan dengan kemampuan ekspor kopi hanya satu kontainer. Tahun berikutnya omzet sudah melonjak drastis hingga Rp 1,5 miliar per bulan.
Sadar dengan peluang besar itu, Sadarsah pun berupaya untuk mendapatkan sertifikat kopi organik dari lembaga sertifikasi Control Union di Belanda. Sertifikat tersebut seperti Fair Trade, organic coffee, dan rain forest . Sertifikat –sertifikat ini akan menambah nilai harga kopi arabika gayo di pasar dunia. Dengan modal tambahan berupa sertifikat itu, ekspor kopi Sadarsah pun makin lancar.
Mengangkat Nasib Petani Kopi
Kesuksesan Sadarsah membangun bisnis kopi melalui CV Arvis Sanada tak lepas dari keberhasilannya membangun kemitraan dengan petani kopi. Berkat keluwesan bergaul, saat ini Sadarsah telah menjalin kemitraan dengan 7.000 petani kopi yang tersebar di Aceh Tenggara, dan Lintong, Sumatra Utara, dari para petani kopi itulah Sadarsah mendapatkan pasokan kopi dan sukses mengekspornya ke berbagai negara. Kepiawaian dia bergaul tak lepas dari masa lalunya yang besar dari keluarga petani kopi.
Untuk mendapatkan kepercayaan petani, Sadarsah mengajak para petani kopi untuk mendirikan koperasi. Tahun 2006 berdirilah koperasi petani kopi bernama KSU Arinagata dengan jumlah anggota 335 petani. KSU Arinagata itu mengelola lahan kopi seluas 2.700 hektare (ha) yang tersebar di Aceh Tenggara dan Bener Meriah (Takengon). Anggota koperasi itulah yang rutin memasok kopi gayo kepada Sadarsah.
Jalinan kerjasama antara Sadarsah dengan petani itulah yang membuat Sadarsah bisa mendapatkan pasokan kopi 5.400 ton per tahun. Kopi itu ia beli Rp 65.000 per kg dan dijual dengan harga Rp 70.000 per kg sampai dengan harga Rp 75.000 per kg.
Sengketa Merek
Keberhasilan Sadarsah bersama CV Arvis Sanada mengekspor kopi gayo ke berbagai negara memang tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai rintangan harus ia lewati agar bisa menjajakan kopi tanah Andalas ke mancanegara. Salah satu problem yang pernah dihadapi Sadarsah adalah keberatan atas merek gayo yang dilayangkan perusahaan kopi asal Belanda, Holland Coffee, pada 2008 silam. Perusahaan itu mengklaim, Sadarsah telah menjiplak merek kopi produksi mereka.
Holland Coffee secara terang-terangan melarang Sadarsah menggunakan kata gayo pada merek kopinya, Arabica Sumatera Gayo. Apalagi kopi milik Sadarsah itu juga beredar luas di Negeri Belanda. Perusahaan itu menyatakan, merek gayo pada kopi mereka itu sudah terdaftar dalam undang-undang merek di Belanda. Karena itu, penggunaan kata gayo oleh Sadarsah dinilai melanggar aturan merek di Belanda.
Namun Sadarsah sebagai warga negara Indonesia mengatakan bahwa dirinya lebih berhak menggunakan kata gayo ketimbang orang Belanda yang menggunakan kata itu. Apalagi kata gayo adalah nama daerah di Indonesia bukan nama daerah di Belanda..
Untuk mempertahankan merek gayo itu Sadarsah mengajukan sertifikat asal-usul kopi. Baru Mei 2010 dia berhasil mengantongi sertifikat IG (indikasi geogafis) dari International Fair Trade Organization (IFTO). Sertifikat itu menyatakan Sadarsah berhak memakai kata gayo pada produk kopi miliknya yang berasal dari Gayo. Berkat sertifikat IG itulah Sadarsah menjadi percaya diri memperkenalkan kopi gayo keseluruh dunia. Oktober 2010 ia membawa kopi gayo dalam acara Lelang Spesial Kopi Indonesia di Bali. “Kopi Sumatera Arabika Gayo mendapat nilai tertinggi saat cupping score ,” katanya.
Ternyata ada hikmah dibalik sengketa merek “Gayo” antara Holland Coffee dan Sadarsah. Dengan kejadian itu memantapkan posisi kopi gayo sebagai kopi organik terbaik dunia. “Dulu banyak yang tak kenal kopi gayo, setelah sengketa merek itu, kopi gayo malah jadi terkenal,” kata pak Sadarsah.
Read More
Dua varietas kopi arabika gayo, yakni Gayo 1 dan Gayo 2 adalah varietas unggul berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 3998/Kpts/SR.120/12/2010, Tanggal 29 Desember 2010. Gayo 1 merupakan varietas Arabusta Timtim, dan gayo 2 adalah verietas Borbor. Kelebihan kedua varietas ini adalah tahan terhadap karat daun, nematode dan penggerek buah kopi. Selain itu kedua varietas ini memiliki citarasa dan aroma excellent, sehingga menjadikan jenis kopi ini menjadi favorit di pasar dunia.
Sadarsah mulai mengenal bisnis kopi ketika lulus kuliah pada tahun 2001. Saat itu dia masih menjadi tenaga pemasar di lima perusahaan eksportir kopi di Medan, Sumatra Utara. Setelah hampir lima tahun bekerja, alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) ini mulai memilih jalan untuk berwirausaha sendiri.
Pada 2006, dengan modal pinjaman dari seorang teman, Sadarsah mendirikan CV Arvis Sanada di Medan. Dia perlu membuat badan usaha karena melihat peluang besar dalam bisnis ekspor kopi. Apalagi ketika itu dunia sedang mengalami krisis kopi.
Ekspor perdana yang cuma satu kontainer itu ternyata menjadi pembuka pintu gerbang bagi Sadarsah untuk memasuki perdagangan kopi dunia. Dengan mengusung slogan “Quality, Trust, and Excellence,” pertumbuhan bisnis Sadarsah melesat pesat. Jika pada 2006, omzetnya hanya Rp 600 juta per bulan dengan kemampuan ekspor kopi hanya satu kontainer. Tahun berikutnya omzet sudah melonjak drastis hingga Rp 1,5 miliar per bulan.
Sadar dengan peluang besar itu, Sadarsah pun berupaya untuk mendapatkan sertifikat kopi organik dari lembaga sertifikasi Control Union di Belanda. Sertifikat tersebut seperti Fair Trade, organic coffee, dan rain forest . Sertifikat –sertifikat ini akan menambah nilai harga kopi arabika gayo di pasar dunia. Dengan modal tambahan berupa sertifikat itu, ekspor kopi Sadarsah pun makin lancar.
Mengangkat Nasib Petani Kopi
Kesuksesan Sadarsah membangun bisnis kopi melalui CV Arvis Sanada tak lepas dari keberhasilannya membangun kemitraan dengan petani kopi. Berkat keluwesan bergaul, saat ini Sadarsah telah menjalin kemitraan dengan 7.000 petani kopi yang tersebar di Aceh Tenggara, dan Lintong, Sumatra Utara, dari para petani kopi itulah Sadarsah mendapatkan pasokan kopi dan sukses mengekspornya ke berbagai negara. Kepiawaian dia bergaul tak lepas dari masa lalunya yang besar dari keluarga petani kopi.
Untuk mendapatkan kepercayaan petani, Sadarsah mengajak para petani kopi untuk mendirikan koperasi. Tahun 2006 berdirilah koperasi petani kopi bernama KSU Arinagata dengan jumlah anggota 335 petani. KSU Arinagata itu mengelola lahan kopi seluas 2.700 hektare (ha) yang tersebar di Aceh Tenggara dan Bener Meriah (Takengon). Anggota koperasi itulah yang rutin memasok kopi gayo kepada Sadarsah.
Jalinan kerjasama antara Sadarsah dengan petani itulah yang membuat Sadarsah bisa mendapatkan pasokan kopi 5.400 ton per tahun. Kopi itu ia beli Rp 65.000 per kg dan dijual dengan harga Rp 70.000 per kg sampai dengan harga Rp 75.000 per kg.
Sengketa Merek
Keberhasilan Sadarsah bersama CV Arvis Sanada mengekspor kopi gayo ke berbagai negara memang tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai rintangan harus ia lewati agar bisa menjajakan kopi tanah Andalas ke mancanegara. Salah satu problem yang pernah dihadapi Sadarsah adalah keberatan atas merek gayo yang dilayangkan perusahaan kopi asal Belanda, Holland Coffee, pada 2008 silam. Perusahaan itu mengklaim, Sadarsah telah menjiplak merek kopi produksi mereka.
Holland Coffee secara terang-terangan melarang Sadarsah menggunakan kata gayo pada merek kopinya, Arabica Sumatera Gayo. Apalagi kopi milik Sadarsah itu juga beredar luas di Negeri Belanda. Perusahaan itu menyatakan, merek gayo pada kopi mereka itu sudah terdaftar dalam undang-undang merek di Belanda. Karena itu, penggunaan kata gayo oleh Sadarsah dinilai melanggar aturan merek di Belanda.
Namun Sadarsah sebagai warga negara Indonesia mengatakan bahwa dirinya lebih berhak menggunakan kata gayo ketimbang orang Belanda yang menggunakan kata itu. Apalagi kata gayo adalah nama daerah di Indonesia bukan nama daerah di Belanda..
Untuk mempertahankan merek gayo itu Sadarsah mengajukan sertifikat asal-usul kopi. Baru Mei 2010 dia berhasil mengantongi sertifikat IG (indikasi geogafis) dari International Fair Trade Organization (IFTO). Sertifikat itu menyatakan Sadarsah berhak memakai kata gayo pada produk kopi miliknya yang berasal dari Gayo. Berkat sertifikat IG itulah Sadarsah menjadi percaya diri memperkenalkan kopi gayo keseluruh dunia. Oktober 2010 ia membawa kopi gayo dalam acara Lelang Spesial Kopi Indonesia di Bali. “Kopi Sumatera Arabika Gayo mendapat nilai tertinggi saat cupping score ,” katanya.
Ternyata ada hikmah dibalik sengketa merek “Gayo” antara Holland Coffee dan Sadarsah. Dengan kejadian itu memantapkan posisi kopi gayo sebagai kopi organik terbaik dunia. “Dulu banyak yang tak kenal kopi gayo, setelah sengketa merek itu, kopi gayo malah jadi terkenal,” kata pak Sadarsah.
5 Komoditas Pertanian dan Perkebunan Indonesia yang Mendunia
Admin
11:34 AM
artikel pertanian
,
hasil pertanian
,
info pertanian
,
pertanian indonesia
,
produk pertanian
5 Komoditas Pertanian dan Perkebunan Indonesia yang Mendunia - Kita patut berbangga ternyata beberapa produk pertanian dan perkebunan Indonesia sangat mendunia. Ditengah meluapnya arus impor barang konsumsi dari luar negeri, komoditas pertanian dan perkebunan masih menjadi komoditi unggulan di kancah internasional. Kali ini akan kita ulas sedikit mengenai 5 komoditas pertanian dan perkebunan Indonesia yang mendunia.
1. Kelapa Sawit
Indonesia menempatkan diri sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 47% mengungguli Malaysia di tempat ke 2 dengan 39%. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
2. Rempah-rempah
Sejak dahulu kala, Indonesia terkenal akan rempah-rempahnya. Tanaman rempah-rempah yang tumbuh subur di Indonesia menarik minat bangsa lain untuk menguasainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dahulu banyak bangsa asing yang kaya raya akibat rempah-rempah dari Indonesia yang mempunyai nilai sangat tinggi. Sampai saat ini Indonesia masih sebagai eksportir utama rempah-rempah di dunia, diantaranya adalah pala (no. 1), kayu manis (no. 1), cengkeh (no 1) dan lada (no. 2).
3. Kakao
Indonesia merupakan penghasil kakao no 3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksinya terus tumbuh rata-rata 3,5% per tahun, pada tahun 2014 pemerintah berkomitmen untuk mengalahkan kedua Negara tersebut untuk menduduki peringkat pertama sebagai penghasil kakao terbesar di dunia. Pada tahun 2010 produksi kakao Indonesia mencapai 574 ribu ton atau menyumbang 16% produksi kakao dunia, sedangkan Pantai Gading di peringkat pertama dengan 1,6 juta ton, atau menyumbang sebesar 44%.
4. Karet
Indonesia menempati peringkat ke 2 setelah Thailand sebagai pemasok karet mentah dunia. Ada yang menyebut Indonesia sebagai Arabnya karet dunia. Meskipun kalah dalam hal jumlah dan produktifitas perkebunan karet, namun karet Indonesia disebut-sebut menang secara kualitas dibanding karet dari Thailand. Pada tahun 2011 produksi karet di Indonesia mencapai 2,8 juta ton.
5. Kopi
Saat ini Indonesia menduduki peringkat 3 sebagai produsen kopi dunia dibawah Brazil dan Kolombia. Basarnya produksi kopi Indonesia per tahun rata-rata sekitar 600 ribu ton. Dari angka ini Indonesia dapat mensuplai 7% kebutuhan kopi dunia.
Read More
1. Kelapa Sawit
Indonesia menempatkan diri sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 47% mengungguli Malaysia di tempat ke 2 dengan 39%. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
2. Rempah-rempah
Sejak dahulu kala, Indonesia terkenal akan rempah-rempahnya. Tanaman rempah-rempah yang tumbuh subur di Indonesia menarik minat bangsa lain untuk menguasainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dahulu banyak bangsa asing yang kaya raya akibat rempah-rempah dari Indonesia yang mempunyai nilai sangat tinggi. Sampai saat ini Indonesia masih sebagai eksportir utama rempah-rempah di dunia, diantaranya adalah pala (no. 1), kayu manis (no. 1), cengkeh (no 1) dan lada (no. 2).
3. Kakao
Indonesia merupakan penghasil kakao no 3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksinya terus tumbuh rata-rata 3,5% per tahun, pada tahun 2014 pemerintah berkomitmen untuk mengalahkan kedua Negara tersebut untuk menduduki peringkat pertama sebagai penghasil kakao terbesar di dunia. Pada tahun 2010 produksi kakao Indonesia mencapai 574 ribu ton atau menyumbang 16% produksi kakao dunia, sedangkan Pantai Gading di peringkat pertama dengan 1,6 juta ton, atau menyumbang sebesar 44%.
4. Karet
Indonesia menempati peringkat ke 2 setelah Thailand sebagai pemasok karet mentah dunia. Ada yang menyebut Indonesia sebagai Arabnya karet dunia. Meskipun kalah dalam hal jumlah dan produktifitas perkebunan karet, namun karet Indonesia disebut-sebut menang secara kualitas dibanding karet dari Thailand. Pada tahun 2011 produksi karet di Indonesia mencapai 2,8 juta ton.
5. Kopi
Saat ini Indonesia menduduki peringkat 3 sebagai produsen kopi dunia dibawah Brazil dan Kolombia. Basarnya produksi kopi Indonesia per tahun rata-rata sekitar 600 ribu ton. Dari angka ini Indonesia dapat mensuplai 7% kebutuhan kopi dunia.
Bawang Goreng Palu Tembus Korea Selatan
Bawang merah merupakan salah satu bumbu yang wajib ada pada masakan.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan dasar, bawang merah goreng juga berfungsi sebagai pelengkap kudapan. Cita rasa makanan dijamin makin istimewa berkat irisan bawang yang tipis dan renyah tersebut.
Proses membuat irisan bawang goreng cukup mudah. Anda tinggal mengiris tipis bawang merah, menggorengnya di minyak panas, dan meniriskan minyak hingga kering. Namun, bagi Anda yang tak biasa memasak, proses ini bisa membuat air mata berlinang. Belum lagi bau khas bawang yang semerbak tercium di dapur.
Kendala ini ternyata membuka peluang bisnis baru yaitu bawang goreng dalam kemasan. Para pelaku usaha bawang goreng berlomba-lomba menawarkan produk bercita rasa tinggi yang cocok dengan selera masyarakat. Bawang goreng pun siap disantap kapan saja dan dimana saja. Praktis bukan?
Salah satu pelaku usaha yang sukses memasarkan bawang goreng dalam kemasan adalah Ragwan Hasan Al Idrus. Bersama suaminya, Fauzi Salim, Ragwan merintis bisnis bawang goreng yang diberi nama Sal-Han sejak 2004.
Perempuan asal Palu, Sulawesi Tengah ini mengaku tertarik menggeluti bisnis makanan karena besarnya pasar yang dapat digarap. Apalagi bawang merah khas Palu merupakan komoditas unggulan. “Saya gunakan adalah bawang batu. Bawang ini hanya tumbuh di lembah Palu,” katanya.
Ragwan menuturkan karakteristik bawang batu khas Palu ini berbeda dengan bawang lainnya. Bentuknya bulat berwarna putih keunguan. Selain itu, bawang ini juga memiliki sedikit kandungan air. Tak heran, bawang akan terasa renyah dan harum setelah digoreng.
Setelah jadi, dia mempromosikan bawang goreng kepada keluarga dan teman-temannya. Tak disangka, sambutan yang dia dapat sangat positif. Ragwan dan Fauzi pun makin bersemangat menggeluti bisnis ini.
Seiring berjalannya waktu, jumlah permintaan bawang merah Sal-Han kian meningkat. Ragwan pun berusaha memenuhi permintaan konsumen dengan menambah kapasitas produksi. Jika dulu dia hanya mampu memproduksi 60 kilogram bawang, kini kapasitas produksi menembus 7—15 ton per bulan.
Bahan baku dipasok dari petani-petani bawang yang ada di sekitar Palu. Namun, dia tak ingin bergantung sepenuhnya kepada komoditas bawang di pasar. “Saya membuka ladang bawang sendiri. Saat ini luasnya mencapai 5 hektar. Hasil panen dari ladang hanya memenuhi 50% kebutuhan, sisanya saya tetap gunakan bawang dari petani,” kata Ragwan.
Ragwan menjual bawang goreng dengan harga Rp180.000—Rp250.000 per kilogram. Kendati terbilang mahal, bawang goreng Sal-Han tetap laris di pasaran karena rasa gurih dan tekstur nan renyah. Margin keuntungan yang didapat mencapai 30%—40% dengan nilai omzet menembus Rp2 milyar per tahun.
Sebagai salah satu bahan baku makanan, komoditas bawang merah tentu dibutuhkan oleh masyarakat luas. Sayangnya, harga jual bawang merah acap kali naik turun. Hasilnya, para pelaku usaha bawang goreng pun harus tunduk dengan harga jual di pasaran.
Kendala ini dilihat oleh Ragwan. Perempuan yang pernah berprofesi sebagai guru ini merasa dirinya tak bisa bergantung ke stok bawang di pasar jika ingin meraih sukses. Di awal-awal produksi, dia sering mengalami kelangkaan bahan baku dan harga jual bawang yang tinggi.
Ragwan pun menemukan ternyata masalahnya ada di cuaca. “Cuaca di Palu sangat ekstrim. Ini yang membuat petani banyak mengalami gagal panen,” katanya. Untuk mengatasi hal tersebut, Ragwan dan suaminya mulai menyewa lahan di beberapa tempat. Jika ada satu lahan yang gagal panen, dia tetap bisa mendapat hasil bawang dari lahan lainnya.
Setelah mendapat pasokan bawang goreng, Ragwan membawa bahan baku tersebut untuk digoreng. Dia mengatakan proses pembuatan bawang goreng sangat sederhana. Pertama, bawang merah dikupas dan dicuci bersih. Bawang tersebut lalu dirajang menggunakan mesin hingga menghasilkan lembaran tipis. Lebih lanjut, irisan bawang digoreng di minyak panas sampai berwarna kuning kecoklatan. Terakhir, bawang goreng dimasukkan ke dalam mesin pengering (spinner) untuk memisahkan minyak.
Read More
Selain dimanfaatkan sebagai bahan dasar, bawang merah goreng juga berfungsi sebagai pelengkap kudapan. Cita rasa makanan dijamin makin istimewa berkat irisan bawang yang tipis dan renyah tersebut.
Proses membuat irisan bawang goreng cukup mudah. Anda tinggal mengiris tipis bawang merah, menggorengnya di minyak panas, dan meniriskan minyak hingga kering. Namun, bagi Anda yang tak biasa memasak, proses ini bisa membuat air mata berlinang. Belum lagi bau khas bawang yang semerbak tercium di dapur.
Kendala ini ternyata membuka peluang bisnis baru yaitu bawang goreng dalam kemasan. Para pelaku usaha bawang goreng berlomba-lomba menawarkan produk bercita rasa tinggi yang cocok dengan selera masyarakat. Bawang goreng pun siap disantap kapan saja dan dimana saja. Praktis bukan?
Salah satu pelaku usaha yang sukses memasarkan bawang goreng dalam kemasan adalah Ragwan Hasan Al Idrus. Bersama suaminya, Fauzi Salim, Ragwan merintis bisnis bawang goreng yang diberi nama Sal-Han sejak 2004.
Perempuan asal Palu, Sulawesi Tengah ini mengaku tertarik menggeluti bisnis makanan karena besarnya pasar yang dapat digarap. Apalagi bawang merah khas Palu merupakan komoditas unggulan. “Saya gunakan adalah bawang batu. Bawang ini hanya tumbuh di lembah Palu,” katanya.
Ragwan menuturkan karakteristik bawang batu khas Palu ini berbeda dengan bawang lainnya. Bentuknya bulat berwarna putih keunguan. Selain itu, bawang ini juga memiliki sedikit kandungan air. Tak heran, bawang akan terasa renyah dan harum setelah digoreng.
Setelah jadi, dia mempromosikan bawang goreng kepada keluarga dan teman-temannya. Tak disangka, sambutan yang dia dapat sangat positif. Ragwan dan Fauzi pun makin bersemangat menggeluti bisnis ini.
Seiring berjalannya waktu, jumlah permintaan bawang merah Sal-Han kian meningkat. Ragwan pun berusaha memenuhi permintaan konsumen dengan menambah kapasitas produksi. Jika dulu dia hanya mampu memproduksi 60 kilogram bawang, kini kapasitas produksi menembus 7—15 ton per bulan.
Bahan baku dipasok dari petani-petani bawang yang ada di sekitar Palu. Namun, dia tak ingin bergantung sepenuhnya kepada komoditas bawang di pasar. “Saya membuka ladang bawang sendiri. Saat ini luasnya mencapai 5 hektar. Hasil panen dari ladang hanya memenuhi 50% kebutuhan, sisanya saya tetap gunakan bawang dari petani,” kata Ragwan.
Ragwan menjual bawang goreng dengan harga Rp180.000—Rp250.000 per kilogram. Kendati terbilang mahal, bawang goreng Sal-Han tetap laris di pasaran karena rasa gurih dan tekstur nan renyah. Margin keuntungan yang didapat mencapai 30%—40% dengan nilai omzet menembus Rp2 milyar per tahun.
Sebagai salah satu bahan baku makanan, komoditas bawang merah tentu dibutuhkan oleh masyarakat luas. Sayangnya, harga jual bawang merah acap kali naik turun. Hasilnya, para pelaku usaha bawang goreng pun harus tunduk dengan harga jual di pasaran.
Kendala ini dilihat oleh Ragwan. Perempuan yang pernah berprofesi sebagai guru ini merasa dirinya tak bisa bergantung ke stok bawang di pasar jika ingin meraih sukses. Di awal-awal produksi, dia sering mengalami kelangkaan bahan baku dan harga jual bawang yang tinggi.
Ragwan pun menemukan ternyata masalahnya ada di cuaca. “Cuaca di Palu sangat ekstrim. Ini yang membuat petani banyak mengalami gagal panen,” katanya. Untuk mengatasi hal tersebut, Ragwan dan suaminya mulai menyewa lahan di beberapa tempat. Jika ada satu lahan yang gagal panen, dia tetap bisa mendapat hasil bawang dari lahan lainnya.
Setelah mendapat pasokan bawang goreng, Ragwan membawa bahan baku tersebut untuk digoreng. Dia mengatakan proses pembuatan bawang goreng sangat sederhana. Pertama, bawang merah dikupas dan dicuci bersih. Bawang tersebut lalu dirajang menggunakan mesin hingga menghasilkan lembaran tipis. Lebih lanjut, irisan bawang digoreng di minyak panas sampai berwarna kuning kecoklatan. Terakhir, bawang goreng dimasukkan ke dalam mesin pengering (spinner) untuk memisahkan minyak.
Institut Pertanian Bogor Lahirkan 55 Inovasi Pertanian
Admin
11:32 PM
inovasi pertanian
,
institut pertanian bogor
,
kementrian pertanian
,
produk pertanian
Rektor Institut Pertanian Bogor, Herry Suhardiyanto, mengatakan penelitian IPB menghasilkan 55 jenis inovasi produk pertanian selama 2013. “Hampir semuanya produk pangan, tapi hanya sekitar 10 persen saja yang sudah dimanfaatkan untuk publik,” ujarnya ketika ditemui di gedung Kementrian Pertanian, Senin, 3 Februari 2014.
Hasil inovasi Institut Pertanian Bogor itu, kata dia, dimanfaatkan untuk pengembangan industri pangan dan juga budidaya di daerah lain.
Selama enam tahun, yakni sejak 2008 hingga 2013, IPB menghasilkan 234 inovasi produk pertanian. Rinciannya, pada 2008 ada 21 inovasi, kemudian pada 2009 terdapat 24 inovasi, pada 2010 terdapat 51 inovasi, pada 2011 ada 35 inovasi, pada 2012 ada 48 inovasi, dan pada 2013 terdapat 55 inovasi.
“Produk inovasi itu kami patenkan dan dikembangkan juga dengan lembaga penelitian di luar negeri,” kata Harry.
Dia menilai produk pertanian Indonesia akan bisa bersaing dalam kancah ASEAN Economic Community pada 2015 jika infrastruktur sudah siap. Infrastruktur dimaksud adalah fasilitas penunjang, seperti teknologi yang menyokong distribusi dan pengolahan.
Dukung Pertanian Organik, Malang Bangun Minimarket Khusus
Admin
2:46 AM
go organic
,
kelompok tani
,
pertanian indonesia
,
pertanian organik
,
produk pertanian
,
usaha pertanian
Program Pertanian Organik (Go Organic) yang dicanangkan oleh Pemkot Batu, Jawa Timur, akan ditunjang keberadaan minimarket produk organik yang bakal dibangun di kawasan Sidomulyo yang dikenal sebagai sentra tanaman hias.
Priyanto, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batu, mengatakan pendirian minimarket atau swalayan yang khusus menjual aneka produk pertanian organik di Batu harus segera direalisasikan.
“Pendirian minimarket organik tersebut akan sejalan dengan program Go Organic yang diusung Pemkot Batu. Selain itu akan menjadi nilai plus bagi sektor pariwisata di Batu,” kata Priyanto, Kamis (13/3/2014).
Dengan adanya minimarket produk organik tersebut akan membuat wisatawan yang datang ke Kota Batu memiliki banyak pilihan destinasi belanja selain apel dan tanaman hias.
Apalagi produk organik cocok untuk menyasar wisatawan maupun konsumen yang berasal dari golongan menengah ke atas. Selain itu dengan adanya minimarket tersebut petani organik di Kota Batu tidak perlu takut kehilangan pasar atau tempat untuk menampung produk pertanian organik miliknya.
“Ke depan keberadaan minimarket organik tersebut juga bisa dikolaborasikan dengan kalangan perhotelan. Sehingga jika ada tamu bisa diarahkan untuk datang maupun minimal bisa memenuhi kebutuhan sayur mayur organik para tamu,” jelas dia.
Suharto, Kepala Desa Sidomulyo Kota Batu, mengatakan minimarket produk organik seperti sayur mayur dan buah buahan organik akan dibangun di wilayahnya.
Rencana membangun minimarket tersebut juga sudah disosialisasikan ke kelompok tani Gelora Bunga Desa Sidomulyo.
Rencananya minimarket tersebut dibangun di atas lahan rest area milik desa Sidomulyo yang berada di Jalan Bukit Berbunga.
Dengan adanya minimarket organik diharapkan para petani organik di desa Sidomulyo tidak perlu bingung lagi dalam memasarkan hasil pertanian organik mereka karena bisa ditampung di minimarket tersebut.
“Bahkan jika memungkinkan produk organik dari petani desa lain juga akan ditampung,” ujarnya.
Selain itu diharapkan pembangunan minimarket itu bisa direalisasikan tahun depan. Sidomulyo sendiri selama ini dikenal sebagai sentra wisata bunga hias tingkat nasional. Bunga yang menjadi unggulan antara lain krisan, mawar dan bunga pucuk merah.
Dengan berkembangnya pertanian organik di Malang, setidaknya juga ikut mendukung program kementerian pertanian dalam upaya meningkatkan kualitas pertanian Indonesia.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




